The Language of Flowers

sumber gambar

Buat apa ya kita dikasih nama? Kata orang nama adalah doa. Kata-katanya juga, nama bisa jadi ramalan. Kata yang lain, nama cuma sebatas identitas, nothing more. Ya tapi kalo ga punya nama juga bakal bingung sih gimana manggilnya. Kalo dulu Adam sama Hawa gak dikasih nama nanti manggilnya “heh heh” sambil “ckckckckck”.

Minggu kemarin, habis selesai baca buku The Language of Flowers karya Bu Vanessa Diffenbaugh, aku sampai di satu pandangan bahwa dalam kondisi atau mungkin fase hidup tertentu, nama bisa jadi sesuatu yang melegakan, atau malah sebaliknya, jadi hal yang discouraging.

Bayangin ada anak yang cerita hidupnya kayak gini: (spoiler alert!)

Lahir, langsung di-drop di panti asuhan, orang tuanya kabur. Masa kecil hidup di lingkungan foster-care-nya Amerika yang entah karena alasan apa - mungkin ada sejarah yang kurang baik dibaliknya - banyak orang melabelinya sebagai “the system”. Diadopsi, pindah ke satu rumah yang harapannya jadi keluarga baru, beberapa bulan jalan, ada konflik atau ga cocok atau malah di-abuse, balik lagi ke panti. Siklus ini berulang-ulang terus sampai umur belasan tahun.

Sebenarnya waktu umur 10 tahun sempat ketemu dengan satu - calon - keluarga yang keliatan cukup cocok. Sayangnya, di tengah jalan terjadi banyak kesalahpahaman. Lalu, out of desperation, anak ini teramat menuntut kasih dari keluarga X ini, yang singkat cerita membawanya ke keputusan “gue bakar aja dah ni ladang anggur satu lapangan bola”. Habis itu, dia balik lagi ke panti.

Pernah lihat anak kucing liar yang kalo dideketin langsung ngamuk mendesis-desis? “KKZZZTZZZTZ!”. Mungkin anak ini kalo kupikir-pikir mirip kayak si kucing. Sulit mengasihi, sulit membuka diri untuk dikasihi, pun merasa tidak layak dalam banyak hal. Sulit juga buatku yang tumbuh di lingkungan keluarga “normal” untuk ga merasa nelangsa sepanjang baca.

Nama anak ini Victoria.

Victory.. Victorious..

Unlearning to Unlove

Kalo baca The Language of Flowers sampai habis dan coba potong-potong terus lihat momen-momen disana-sini, sebenarnya bisa dilihat juga bahwa ada kemenangan-kemenangan kecil dalam kisah hidup Victoria, terkhusus menjelang akhir hidup, eh, bukunya, ehehe.

Setelah “lulus” dari “the system” karena umurnya udah lebih dari 18 tahun, Victoria dapet kerjaan di toko bunga. Dia kerja di sana sebagai asisten florist, kind of. Dimulai dari sini, banyak titik-titik dalam hidup Victoria yang berbenturan dengan apa yang dia yakini dan pikirkan tentang dirinya.

Kebanyakan dari titik-titik yang kumaksud di atas berkaitan dengan kasih. Dan satu poin yang kurasa ditekankan sama Bu Diffenbaugh di sini adalah gimana caranya belajar untuk dikasihi, atau menerima kasih. Menurutku konsep to love sudah terlalu banyak “dipahami” oleh kalayak ramai sampai kita tidak terlalu memperhatikan sisi lainnya, to be loved.

Karena merasakan kasih pada dasarnya adalah sesuatu yang membahagiakan, mungkin naluri kolektif kita pada akhirnya membentuk satu societal norm yang menganggap bahwa dikasihi adalah hal yang “gampang”. Kalau ditarik dan dilihat lebih jauh, bahkan ada beberapa norm dalam masyarakat kita yang bilang “I deserve to be loved” or “I deserve to be happy”.. Do we though?

Hmm, jadi kepikiran hal lain, tapi itu buat another tulisan saja.

Anyway, Victoria tidak begitu. Hampir sama sekali tidak begitu.

  • Dibikinin bubur kacang ijo - tentu saja bukan bubur kacang ijo, pokoknya makanan di US sana dah - langsung dibuang ke wastafel.
  • Diadopsi sama satu keluarga, dan sebenernya keluarga ini juga terlihat peduli, eh, bisa kepikiran aja dia besoknya nyari kaktus, duri-durinya dicabut, ditaruh di dalem sepatu “ibunya”.
  • Waktu udah 18 tahun, ketemu sama satu cowok, udah cukup deket, eh, kabur. Si cowok superbly di-ghosting dengan cara “gokil” parah.

Pada intinya, kelihatan kalo she shuts everything down before the world has any chance to abandon her, again.

Banyak hal yang bisa di-list kalo mau bahas atau analisis cerita si Victoria. Motherhood, “the system”, kompleksitas relasi antara adopter dan adoptee, bagaimana luka tiap-tiap orang membentuk relasi yang mbruwet - bahasa jawa non-formal untuk kompleks - satu sama lain, sampai perdebatan yang umum di dunia barat tentang “sex outside marriage” ataupun hidup bersama under the same roof sebelum menikah. Baca sendiri aja deh.

Nevertheless, poin fundamental dari keseluruhan cerita yang cukup dominan dan menarik buatku adalah bagaimana caranya kita bisa properly menerima kasih. Mungkin kita perlu membawa topik ini lebih sering di meja diskusi kita, di samping kita tetap belajar tentang mengasihi.

Through The Lens

Dari sudut pandang pembaca (saya sendiri), ada beberapa opini yang could be positive or negative tentang how the story unravel until the end.

Novel ini dikemas dalam dua timeframe yang berbeda. Satu dimulai dari “saat ini”, bener-bener ada di masa waktu Victoria udah umur 18 tahun. Dua dimulai dari masa kecilnya di lingkungan “the system”. Cara ini, buatku pribadi, bikin bisa lebih memahami isi kepala - dan possibly hati - Victoria. Menurutku, dinamika atau porsi cerita dari kedua timeframe ini pun cukup well-balanced. I like this.

However, ada beberapa hal yang bikin aku bertanya-tanya dan I like less juga.

Paling tidak, di sepertiga bagian awal novel, waktu kita mulai dikasih intro tentang hidup Victoria di kedua timeframe, everything feels so natural. Jalan cerita dan cara pembawaannya bikin aku immersed dalam kesan this is a real story (well, maybe it is?). Tapi, duapertiga akhir kerasa.. less natural. Cukup sulit dijelaskan, but I can feel it. Hal ini bikin koneksi dengan kesan this is a real story di awal tidak begitu terbawa lagi.

Selain itu, I sensed ada beberapa momen sepanjang cerita yang kerasa agak conflicting with each other. Di satu waktu, Victoria sangat keliatan seperti kucing liar yang kusinggung di atas, tapi di waktu lain somehow Victoria terasa too easy to let her guard down. Poin yang kedua ini kelihatan waktu dia ketemu sama satu cowok, namanya Grant, dan mulai berelasi dengan dia. Atau mungkin memang ada conflicting self dalam diri Victoria juga sih, dimana dia sebenarnya memang pengen membuka diri, who knows. Bagiku, kerasa cukup uneasy aja waktu notice hal ini.

Jadi?

Overall, aku suka. 4/5.

Oh, Victoria punya ketertarikan dan keahlian keren. Merangkai bunga. Sebenarnya bukan hanya merangkai, tapi dari ceritanya sangat terlihat kalau dia cukup familiar dengan karakteristik dari macam-macam bunga, dan hafal arti dari tiap-tiap bunga. Diceritain juga kalo Victoria sempat bikin kamus the meaning of flowers versinya sendiri. Hence, the title of the book.

Sepanjang novel, interaksi dengan bunga ini hampir selalu muncul disana-sini. Untuk anak macam Victoria yang lahir dan besar di lingkungan yang menyulitkannya untuk percaya dan berekspresi pada siapapun, bunga menjadi satu metode atau tools bagi dia untuk berekspresi dan bahkan berelasi dengan orang-orang di sekelilingnya.

Thanks to this, selesai baca aku juga jadi tahu arti “rahasia” dari beberapa bunga. Definisi-definisi ini kata-katanya tu bersumber dari victorian era di Inggris (1837-1901). However, di akhir bukunya, Bu Diffenbaugh juga ngasih penjelasan bahwa arti-arti bunga ini bukan satu hal yang saklek, ibaratnya ya ada banyak variasi kamusnya, tapi umumnya arti bunga antarkamus ga jauh-jauh beda satu sama yang lain, sepertinya begitu. Here are my 5 picks.. oh, and try to look them online, they’re beautiful! Hopefully I could nurture them someday.

  • Chrysanthemum … Truth
  • Rose, burgundy … Unconscious beauty
  • Amaranth … Immortality
  • Rosemary … Remembrance
  • Lily (I think it was a certain kind of lily, I don’t remember) … Return of happiness

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Wallpaper of Our Life

Wallpaper of Our Life

Thoughts
November 9, 2025
Norwegian Fjord

Norwegian Fjord

Thoughts
November 2, 2025
Tantangan Bikin Motor Terbang

Tantangan Bikin Motor Terbang

Thoughts
March 16, 2025
Persami

Persami

Escapades
February 9, 2025