Persami

(Post dari blog lama. Iya, dulu sempet punya blog tapi udah bangkrut, terus tutup. Ini cerita tentang naik-naik ke puncak gunung tahun 2022)

Dahulu kala, SMP saya punya kegiatan bernama Persami, sebutan untuk “Perkemahan Sabtu Minggu”. Saya juga pernah dengar kalau sebetulnya kepanjangannya adalah “Perkemahan Sabtu Malam Minggu”, dan sepertinya ini lebih umum digunakan, paling tidak di daerah asal saya. Dan menurut saya kepanjangan ini lebih cocok, karena lebih spesifik. Kalau tidak begitu, siapa tahu Sabtu yang dimaksud adalah Sabtu Malam Jumat? Tidak ada yang tahu.

Paling tidak untuk angkatan saya di SMP, Persami adalah kegiatan tahunan yang — kalau bukan paling — sangat ditunggu-tunggu semua anak. Tentu saja termasuk saya, karena waktu itu saya masih anak-anak. Bahkan, bukan cuma anak sekolah saja yang bersemangat menyambut kegiatan ini, tetapi juga guru sekolah, orang tua anak, pedagang jajanan kaki lima, dan sampai-sampai banyak warga desa.

Penantian oleh banyak kalangan ini bukan tanpa alasan. Banyak aktivitas dalam kegiatan Persami yang seakan sudah menjadi kultur tahunan masyarakat. Mulai dari serangkaian kegiatan pramuka, pentas seni, dan mungkin momen yang paling sakramental adalah ketika semua anak berbaris membentuk lingkaran besar mengelilingi lapangan dan bersama-sama menyalakan api unggun. Kalau pembaca beruntung, saat ini kepala pembaca sedang memutar lagu “api kita sudah menyala…”.

Namun pada tulisan kali ini — yang bertema “Where do you wish to travel next?” — saya tidak akan bercerita tentang kegiatan Perkemahan Sabtu Malam Minggu, boro-boro Sabtu Malam Jumat atau Sabtu Malam Seribu Bintang. Melainkan saya akan sedikit banyak mengoceh tentang kegiatan Persami yang tidak ada hubungannya dengan sekolah.

Kutipan pesan Whatsapp di atas adalah awal mula atau pengantar petualangan baru saya untuk berkenalan dengan aktivitas yang sungguh di luar dugaan akan menggoreskan kesan cukup mendalam dalam hidup saya. Ya, naik andong.

Maaf, salah gambar. Maksud saya adalah Gunung Andong.

Sebelum ajakan ini tiba, saya pikir hidup saya tidak terlalu bervariasi dalam hal kegiatan, dan wilayah yang biasa saya kunjungi untuk berbagai urusan pun tidak terlalu luas atau banyak. Rumah-kampus/lab, kampus/lab-rumah. Jalan-jalan pun hanya sekitaran Semarang dan mungkin paling jauh sebatas Ungaran. Luar kota? Paling-paling kalau ada acara atau urusan keluarga saja. So, this kind of invitation is totally new for me!

Tentu saja, awalnya saya ragu untuk mengiyakan. Mungkin tidak berlebihan kalau saya bilang “sangat ragu”! Tidak jarang ajakan “aneh-aneh” yang cukup melompat dari kebiasaan saya, langsung saya tolak. Apalagi, waktu itu saya masih di tengah proses mengerjakan Tugas Akhir. Namun, tidak tahu kenapa, setelah beberapa saat mendiamkan chat teman saya sembari berpikir — dan tentu saja memastikan jadwal — akhirnya saya membalas.

Saya memberanikan diri untuk terpapar pada berbagai hal baru. Sebelumnya, saya hanya pergi jauh kalau memang jadi kewajiban atau betul-betul perlu saja. Jadi, menyetir mobil SENDIRI ke luar kota — karena waktu itu titik kumpulnya di Jogja — ke daerah yang 100% ASING bagi saya, atas kemauan saya sendiri untuk nantinya berjalan MENANJAK, mendaki gunung — waktu itu saya masih jUarang olahraga — masuk ke hutan liar, dan tidak lupa membawa tas yang beratnya sampai BELASAN kilogram; semua ini merupakan hal yang anyar gres.

Oh tidak lupa juga satu hal yang awalnya menjadi poin besar yang membuat saya hampir menolak ajakan ini. Berkenalan dan berteman dengan orang baru. Terdokumentasi dari foto di bawah ini.

Saya merangkum proses awal pendakian ini dalam satu kata: “kaget”. Kaki saya yang hanya terbiasa naik puluhan anak tangga di kampus kaget diperhadapkan dengan ribuan — mungkin ratusan ribu — anak tangga dari batu dan tanah. Jantung dan paru-paru saya yang tidak terbiasa jogging lebih dari 30 menit kaget harus berjalan menanjak selama berjam-jam. Pundak dan punggung saya yang hanya terbiasa duduk seharian menghadap laptop kaget harus menggendong tas yang beratnya hampir — kalau tidak sama atau lebih — seperti galon.

Saya seperti sedang ikut MotoGP tapi bermodal motor mio 2006. Ya, memang sebelum balapan saya sudah sedikit memodif mesin motor mio 2006 ini. Namun, sepertinya saya masih terlalu menyepelekan. Berikut dokumentasi kaki, pundak, punggung, serta wajah gimmick saya ketika sampai di Pos 1 yang menurut saya namanya cukup wadidaw.

Pendakian ini juga diiringi beberapa kejadian yang membuat bulu hidung berdiri. Mulai dari penglihatan satu teman yang mulai berkunang-kunang karena kecapekan, handphone yang nyaris saja hilang karena hampir jatuh ke jurang, sampai hujan lebat yang berlangsung cukup lama ketika sampai di Pos 3 yang membuat kami harus berteduh menunggu cuaca mereda.

Namun, bukan hidup namanya kalau kesulitan tidak dibarengi dengan… kesulitan lain.

Maksud saya, ketika diperhadapkan pada satu masa sulit, bisa jadi ada hal-hal lain yang memungkinkan kita belajar lebih lagi tentang diri kita sendiri, atau mungkin tentang hidup secara umum, atau tentang apa saja. Poinnya adalah belajar. Dan itu yang saya alami dalam pendakian ini yang pada akhirnya membuat saya berpikir, “Muncak kemana lagi ya?”

Dalam proses pendakian ini, tidak cukup muluk kalau saya bilang bahwa saya mengalami kelelahan paling parah dalam hidup saya yang disebabkan oleh aktivitas fisik. Paha saya terasa panas, seakan-akan bisa meleleh kapan saja. Punggung saya meronta-ronta ingin dibebaskan dari pegal yang rasa-rasanya tidak bisa ditangani salonpas, hot in cream, apalagi handsaplast. Paru-paru saya ingin segera kembali pulang ke rumah dan tiduran santai menemani kepala yang overthinking memikirkan rancangan Tugas Akhir.

Dalam semua kepenatan fisik itu, anehnya… Anehnya! Saya menikmatinya. Saya cukup bingung bagaimana mengartikulasikannya, tapi yang jelas semua hal ini membuat saya merasa hidup. Seakan-akan saya sedang diingatkan bahwa saya adalah manusia yang memiliki kendaraan untuk hidup bernama tubuh, dan tubuh ini sedang hidup di dunia yang sangat teramat liar, unik, luas, dan indah!

Di samping itu, tidak saya sangka berada di alam bebas, hutan yang cukup liar, serta bersentuhan dengan tanah, pohon, dan udara segar, bisa memberikan satu perasaan lega. Terhubung dengan alam terbuka cukup membantu mengingat kembali bahwa eksistensi manusia tidak hanya sebatas berkutat dengan kesibukan kehidupan urban yang berisi kerja, kerja, kerja. Eh, kok kayak…

Dalam perjalanan mendaki, satu hal lain yang tentu saja tidak perlu dipertanyakan lagi adalah tidak ada layanan internet. Tidak ada sinyal! Mungkin inilah faktor utama yang membuat relasi antarmanusia di gunung cukup membekas. Saya, seorang pemuda urban yang tidak banyak menghabiskan waktu di luar dan tidak banyak terkoneksi dengan orang lain kalau tidak perlu, cukup kaget, bersemangat, dan — weirldy — bergairah ketika tahu bahwa obrolan antar-orang asing adalah hal yang lumrah dalam ekosistem mendaki.

  • “Asalnya mana Mas?”
  • “Semangat Mas, 5 menit lagi!”
  • “Masnya kalau mau besok mampir di toko saya”
  • “Ayo semangat Mas, mumpung di atas masih sepi”
  • bahkan obrolan kompleks tentang pekerjaan atau negara

It just feels nice to see completely unrelated people smile and talk to you, to each other, and in a sense trust each other in the wilderness.

Jauh sebelum mendaki, ada satu kalimat — kalau tidak salah dari Matthew West — yang tertancap dalam benak saya. Kurang lebih begini, “It is easy for us to mourn our suffering. It is just like when we climb or hike a mountain, we get lost in our fatigue, and most of the time we only focus on our feet because that’s where it hurts so bad. But, when you stop for a moment and look around, you just… understand”. And in a way I understood.

Oke, sudah terlalu panjang. Jadi, jawaban saya untuk pertanyaan “Where do you wish to travel next?” adalah mendaki gunung, mana saja. Tetapi kalau boleh memilih, salah satu cita-cita terdekat saya adalah mendaki Gunung Merbabu.

Kalau bisa sih pas malam minggu juga ya, biar namanya jadi Persami. Perkemahan Sabtu Malam Ini Ku Sendiri.

Bonus foto di puncak, full senyum.

The struggle itself towards the heights is enough to fill a man’s heart. One must imagine Sisyphus happy
Albert Camus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Wallpaper of Our Life

Wallpaper of Our Life

Thoughts
November 9, 2025
Norwegian Fjord

Norwegian Fjord

Thoughts
November 2, 2025
The Language of Flowers

The Language of Flowers

Books
July 4, 2025
Tantangan Bikin Motor Terbang

Tantangan Bikin Motor Terbang

Thoughts
March 16, 2025