Nungguin Es Batu Mencair

Satu sore di ruang tamu, bapakku dan aku sedang “leyeh-leyeh” di tengah gerahnya udara sawah musim kemarau. Di depan kami, segelas es teh duduk di meja, sebuah bentuk perlawanan terhadap realita hawa panas. Aku ingat dengan cukup baik kata-kata apa yang keluar dari mulut bapak di tengah leyeh-leyeh itu. Umurku mungkin 10 tahun.

“Menurutmu, nek es e wis mencair kabeh, banyu ning njero gelas bakal nambah opo ngurang?”, atau dalam bahasa Indonesia terjemahan bebas, “Menurutmu, kalau es-nya sudah mencair semua, air di dalam gelas bakal bertambah atau berkurang?”

“Nambah lah”, jawabku meremehkan.

Kami menunggu beberapa saat sampai es mencair, dan benar saja, seperti burung merpati yang tiba-tiba muncul dari dalam topi tukang sulap, air teh di dalam gelas malah berkurang! Kukira bapakku sedang mengibuli diriku saja dengan semacam trik murahan. Beberapa detik berlalu, dan aku masih membisu memikirkan trik apa yang dipakai bapak. Aku menyerah, lalu dia menjelaskan.

Triknya adalah memainkan volume air. Kemudian bapak menerangkan bagaimana es yang mencair akan memakan ruang yang lebih sedikit daripada ketika ia masih berupa es.

“Weh, opoto, ngomong opo?!”. Mungkin itu yang akan kukatakan saat itu kalau saja aku sudah pintar mengata-ngatai — eheh, no offense, Pak.

Butuh waktu beberapa tahun kemudian — ketika aku menginjak sekolah menengah — untuk aku betul-betul paham apa yang terjadi dengan segelas es teh di satu siang itu. Bapak sedang memamerkan “massa jenis”.

Memori itu selalu mengingatkan kembali tentang rasa takjub. Rasa takjub seorang anak kecil yang tidak tahu banyak hal tapi sok tahu dan pada akhirnya selalu dikagetkan dengan hal yang terlihat di luar nalar.

Rasa takjub dan kagum seorang anak kecil yang baru kali pertama melihat bulan dengan HD menggunakan teleskop, dan tersadar bahwa bulan bukanlah objek sabit atau telur dadar; melainkan bahwa bulan senyata-nyatanya adalah batu raksasa yang mengambang di langit.

Rasa kagum, gentar, dan hormat seorang anak kecil yang melihat langit dipenuhi kilat-kilat cahaya ketika hujan badai, diikuti bahana gemuruh riak Batara Indra — sambil makan mie sedap goreng dan tahu susur, tentu saja.

Sayangnya, harus diakui, semua pikiran perasaan girang dan gempar itu makin lama makin tidak banyak terpikir atau terasa. Mungkin karena memang begitulah usia bekerja. Mungkin juga karena aku harus bangun pagi-pagi, pergi keluar, pulang malam-malam, tidur, dan bangun pagi-pagi lagi. Mungkin juga karena aku sudah terbiasa.

Hanya saja, aku tidak ingin terbiasa.

Segala memori, pikiran, dan perasaan itu menurutku layak untuk dirayakan; hitung-hitung untuk menyegarkan batin dan akal budi yang budreg dan ngelu agar bisa hidup dengan lebih grounded.

Ya begitulah, mari kita minum es teh — air es ya boleh, biar hemat dua rebu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Wallpaper of Our Life

Wallpaper of Our Life

Thoughts
November 9, 2025
Norwegian Fjord

Norwegian Fjord

Thoughts
November 2, 2025
The Language of Flowers

The Language of Flowers

Books
July 4, 2025
Tantangan Bikin Motor Terbang

Tantangan Bikin Motor Terbang

Thoughts
March 16, 2025