Norwegian Fjord

“Fjord”

Pernah denger dan tahu kata ini? Kalo udah, kamu keren! Nanti kukasih hadiah tapi komen dulu di bawah, “aku tahu”. Kalau aku sendiri baru denger sore ini, waktu baca petualangannya Caspian dkk di “The Voyage of The Dawn Treader” (review semoga menyusul). Waktu pertama baca, visual pertama yang muncul di kepala adalah benteng, mungkin karena mirip sama “fort” yak, terus kepikiran merek mobil, dan makin dipikir-pikir malah jadi mirip nama gangster Russian.

Waktu ku-googling, ternyata ini definisinya

a long, narrow, deep inlet of the sea between high cliffs, as in Norway and Iceland, typically formed by submergence of a glaciated valley.

Terus ini contoh foto aktualnya

(sumber gambar: google. ini guys yang namanya fjord.. jadi pengen liburan)

Momen penemuan kata baru ini jadi bikin aku mikir betapa bahasa memang sekeren dan sekompleks itu. Beberapa coret-coretan garis random yang dijejerin bisa dipakai buat jadi simbol untuk menggambarkan tempat/suasana/kondisi atau apapun itu yang kita mau. Itu baru satu kata! Kalau beberapa coret-coretan dirangkai dengan coretan lain, bisa tercipta satu konsep pikiran/perasaan/intensi yang spesifik.

Kerennya lagi, coret-coretan ini masing-masing punya suara yang unik (jika disuarakan). Masing-masing manusia, dari banyak daerah pun punya karakteristik sendiri dalam menyuarakannya. Namun demikian, manusia dari daerah lain dengan karakteristik lain pun tetap bisa paham apa yang disuarakan! Kita menyebutkan logat.

Fakta bahwa ada lebih dari 7000 bahasa di dunia ini tentu saja tidak membuat pemahaman akan bahasa jadi lebih mudah. Tiap bahasa memiliki kekayaan dan kepribadian yang beragam satu sama lain. Tidak semua bahasa memiliki struktur yang sama. Tidak semua bahasa memiliki jumlah coverage kata atau simbolisasi yang sama. Seperti gambar di atas, dalam bahasa Indonesia, tidak ada padanan kata yang 100% sama untuk menggambarkan “fjord”. Dalam hal ini, lingkungan hidup dan budaya memiliki peran, yang hanya membuat pemahaman akan bahasa makin kompleks dan berlimpah.

Lucunya, pemirsa sekalian bisa membaca ini juga dalam kerangka bahasa. Aku sendiri yang sedang ngetik-ngetik ini juga ngetik pakai bahasa. Rasa-rasanya hampir tidak mungkin kita hidup tanpa bahasa. Secara tidak langsung, kita dikungkung oleh bahasa. Kita baru membahas bahasa dalam konteks tulis dan verbal, kita belum berbicara mengenai bahasa gestur, bahasa visual, bahasa isyarat, dan entah apa lagi macamnya.

Berangkat dari semua poin ini, makin banyak saja pertanyaan muncul di kepala. Dari mana semua bahasa ini berasal? Apakah bahasa adalah a one time thing atau progressive thing seperti evolusi? Apa dasarnya? Bagaimana bisa ada begitu banyak bahasa? Bisakah kehidupan sosial berjalan tanpa bahasa? Buatku sendiri, pertanyaan paling menarik untuk dikulik dan digali dari semua rambling ini adalah apakah kita tidak bisa berpikir jika tidak ada bahasa?

Untuk menjawab poin terakhir itu mungkin diperlukan manusia yang berpikir dan berbahasa dari berbagai bidang. Philosophers, Neuroscientists, Sociologist, Archaeologist, Historian, semuanya dah join aja sini gih.

Makin dipikir makin keren… Jadi pengen tahu isi kepala philologist kayak Tolkien, karya hidupnya LOTR cuy!

Kayaknya bikin post kayak gini seru juga. Isinya tentang kekaguman sendiri akan satu hal, mirip post yang satu ini tapi lebih fokus dan dalem (berasa jadi youtuber yang lagi nunjukin link ke video lain). Semoga bisa jadi bahan tulisan lain juga deh. Mbean, Di tengah nulis baru nyadar juga kalau pacarku orang bahasa (so dope!🤟🏽💌).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Wallpaper of Our Life

Wallpaper of Our Life

Thoughts
November 9, 2025
The Language of Flowers

The Language of Flowers

Books
July 4, 2025
Tantangan Bikin Motor Terbang

Tantangan Bikin Motor Terbang

Thoughts
March 16, 2025
Persami

Persami

Escapades
February 9, 2025