
(Post dari blog lama. Iya, dulu sempet punya blog tapi udah bangkrut, terus tutup)
1. Buku
Saya baru mulai membiasakan membaca buku di masa-masa akhir SMA. Ketika ujian praktik Bahasa Indonesia, saya dapat tugas untuk — kalau tidak salah — membuat sinopsis dari satu novel bebas. Dulu saya tidak punya novel, jadi saya pinjam punya teman, novel “Ayahku Bukan Pembohong” karya Tere Liye. Ternyata tidak jauh berbeda dengan uang bulanan saya, dalam beberapa hari saja bukunya sudah habis. Lucunya, di malam terakhir sebelum ujian praktik dimulai, bukunya baru habis setengah, dan setengah terpaksa saya bertekad menghabiskannya hanya dalam beberapa jam. Aktivitas yang awalnya saya pikir akan jadi pengantar tidur ternyata membuat saya terjaga sampai jam setengah 5 subuh. “KOK SERU YA!?”
Buku telah banyak membantu saya dalam banyak hal — tentu saja termasuk lari dari kenyataan. Di tengah dunia yang seringnya membuat isi kepala keruh, buku menjadi oasis untuk bisa “ngendepke” pikiran dan perasaan. Dengan membaca buku, saya juga bisa tahu pengalaman, cara pandang, atau imajinasi orang yang hidup bahkan berabad-abad lalu! Bersyukur dengan adanya buku jarak untuk mengenal orang atau sesuatu bisa menjadi sebatas jari dan kertas.
2. Internet
Bagaimana saya tidak bersyukur? Internet memungkinkan saya untuk bisa tahu informasi-informasi fundamental, seperti jenis kalajengking apa yang tiba-tiba muncul di kamar mandi saya, warung mie ayam terenak setempat kalau saya sedang touring, dan tentu saja kapan tanggal lahir Cristiano Ronaldo — spoiler ahead! — 5 Februari 1985. Terimakasih internet!
Jika Anda tanya saya, “Overall do you think internet makes you happier or unhappier?“. Ya, jawabannya jelas agak tricky. Terkadang happier, terkadang unhappier. Unhappier karena internet memungkinkan saya bisa dengan semangat membully diri sendiri melihat dunia yang terlihat “perfect” di timeline Instagram. Happier, karena internet memungkinkan saya bisa mengakses “buanyak” informasi — istilah kerennya “Demokratisasi Informasi” — dari berbagai penjuru dunia. Internet juga membuat saya bisa terkoneksi dengan berbagai orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya, dan Anda juga bisa membaca tulisan ini tentu berkat internet. Terimakasih internet!
3. Teh Panas
Mungkin terdengar sepele, tapi dengan segelas teh panas, saya bisa dengan mantap menjalani hari dimana saya sedang pilek. Dengan segelas teh panas, hati saya jadi sejuk dan siap maafin orang yang nggak punya salah dengan saya. Dengan segelas teh panas, hati saya ikhlas melihat Hinata tunangan dengan Naruto. Kenapa teh panas bisa membuat saya begini? Ah, apapun alasannya, saya bersyukur untuk teh panas.
