Tantangan Bikin Motor Terbang

sumber gambar

Pada bulan puasa yang penuh perenungan ini - walaupun saya ga ikut puasa🙏🏽 - saya mau mengajak kita sedikit berpikir, mengevaluasi diri, hati, dan pikiran kita yang funny, eh, fana ini.

Bayangin dirimu lagi ngerjain proyek motor terbang. Dirimu secara spesifik ditugasin buat bikin bagian jet booster yang tentu saja adalah komponen penting - kalau bukan paling penting - untuk motornya bisa terbang dan melayang.

Udah berpuluh-puluh bulan dirimu mikir desain paling oke buat bisa diterapin di motornya. Udah berkali-kali juga dirimu menguji dan mengetes banyak desain, dan berkali-kali juga bersua dengan kegagalan-kegagalan kecil dan kegagalan-kegagalan besar.

Satu waktu, setelah sekian demam, pilek, dan migrain, akhirnya ketemu juga satu desain yang sepertinya bener-bener bisa dipake setelah diuji berkali-kali dalam banyak kondisi. Pada akhirnya, segala hal ini membuat dirimu cukup “pede” buat bisa nampilin motor terbangnya di hari-H demo minggu depan.

Tiba-tiba, H-2 demo temenmu telpon jam 10 malem, “Sob, motornya mogok!!!”

Motor yang digadang-gadang sama pemerintah bakal merevolusi tatanan transportasi dan budaya mobilitas global; motor yang jadi tujuan investasi banyak pemegang modal di dunia; motor yang bahkan udah dimasukin di buku ajar anak SD, SMP, sampai SMA. Mogok. Tidak jalan.

Kaget? Pasti. Tapi, kira-kira, apa yang bakal dirimu pikirin atau lakuin pertama kali?

Bagi kita yang cukup ekspresif, mungkin akan langsung keluar kata-kata terkenal kebun binatang, “Olha tawon!”, “Eek kuda!”, “Kadal!”

Sebagian kita yang sering beribadah mungkin akan berucap, “Ya ampun Tuhan…”, “Astaghfirullah…”, “Kuatkan hamba…”

Tidak mustahil juga bagi kita untuk berkata, “Yowislah…”, atau dalam bahasa Indonesia, “Yaudahlah…”, “Mboh”

Oke.

(diem 2 detik buat membangun atmosfer)

Sekarang, coba bayangin bentar kalo setelah temenmu telpon dan ngasih kabar tidak menggembirakan sama sekali itu, dirimu berucap:

“Hmmm… menarik…”, (sambil masang wajah penasaran dan ngelus-ngelus dagu) atau,
Intriguing…“, (sambil mengerutkan dahi dan sedikit mengangkat satu alis) atau,
“Kemarin bisa kan ya… apa ini gara-gara A atau B atau C…?”, (sambil merem dan terus mikir).

Pikirin bentar deh. Ga perlu pake kasus motor tebang juga, bisa pake hal-hal yang sering terjadi di sekolah, di rumah, di kerjaan, di mana aja yang dirimu mau.

Udah bayangin? Kira-kira nih, apa yang bakal terjadi setelahnya?

Apakah bakal ketemu solusi dan masalah jadi selesai? Bisa jadi, tapi tidak menjamin.
Apakah masalah jadi makin runyam, alhasil tambah pusing? Bisa jadi, tapi tidak menjamin.
Tahu-tahu muncul jin warna biru dari dalem gelas terus ngasih tiga permintaan? Bisa jadi, tapi tidak menjamin. Eh wait, sepertinya kalo ini cukup ada jaminannya.

Apapun yang terjadi setelahnya, ada satu keuntungan yang bisa kita peroleh - paling tidak menurut saya dan pengalaman saya.

Respon “Menarik…” mempersiapkan pikiran dan energi kita untuk terlibat dalam area yang tidak aman dengan kondisi yang sedikit lebih nyaman. Kita jadi lebih alert. Kalau ibarat bela diri, mungkin sama seperti memasang kuda-kuda. Kalau dalam MotoGP, mungkin mirip dengan kondisi diam dan fokus waktu countdown lampu sampai race dimulai.

Saya tidak sedang mencoba mengkerdilkan masalah dengan menyarankan untuk mencoba tetap positive thinking. Semua masalah memiliki kompleksitas dan damage yang berbeda-beda terhadap hidup kita. Pun, sah-sah saja dan tidak aneh pula bila ketika masalah datang, kita merespon dengan mengelus dada, berdoa, atau malah mengumpat berteriak “Telo!” (bahasa jawa untuk ketela).

Namun, di tengah munculnya ketidakpastian, tidakkah lebih baik kita sekalian mempersiapkan diri untuk bisa survive dengan mengerahkan segala yang kita punya secara optimal? Tidakkah ini tidak hanya bicara tentang mindset tapi juga “skill survival” di zaman modern ini?

Di sisi lain, respon “Menarik…” juga memancing rasa penasaran. Sejauh yang saya alami, rasa penasaran cukup piawai dan membantu dalam membuat bensin (yang ini asli ron 92 ga kaleng-kaleng) untuk terus melangkah mencari jawaban.

Tentu saja ini easier said than done. Seperti yang kita semua tahu, lebih mudah membaco* daripada menerapkan secara aktual. Namun, tidak ada salahnya menurut saya untuk berbicara tentang hal ini. Paling tidak, ini menjadi pengingat, reminder, untuk manusia seperti saya yang dikit-dikit lupa karena kebanyakan nonton konten.

Harapannya, setelah bergumam “Menarik…” dengan mata merem dan sedikit kiyer-kiyer sambil mengerutkan dahi, bibir, pundak, lutut, dan kaki, ada ruang yang cukup jernih - di tengah macam-macamkekeruhan - di kepala kita untuk bisa berpikir dan nemu satu ide solusi:

“Coba dipanasin dulu motornya”

Ngengtrengtengtengtengteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest

Wallpaper of Our Life

Wallpaper of Our Life

Thoughts
November 9, 2025
Norwegian Fjord

Norwegian Fjord

Thoughts
November 2, 2025
The Language of Flowers

The Language of Flowers

Books
July 4, 2025
Persami

Persami

Escapades
February 9, 2025